Photovoices – Menceritakan Cerita melalui foto

By Ni Ketut, 16 old tahun, Senior High School grade 3, Jatituhu

Pada hari Kamis, 4 Agustus, 2016, Saya mendapat pelajaran baru dari Program memberdayakan Tahun 2. The lesson was Photovoices and the first lesson of the day as Introduction to Photovoices. We have two teachers named Mr. Sudarma and Mrs. Meti and they explained that “Photovoices” is a project collaboration with the Yayasan ‘Lensa Masyarakat Nusantara’ that will be teaching some of our classes and training all of us. They explained the lesson patiently so that we can fully understand the lesson.

img_1624-resize

Photovoices is a method to deliver voices (idea, story or issue) through a picture or photograph. Program ini bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan metode Photovoices agar siswa untuk memahami dan mengekspresikan masalah mereka, menemukan solusi dan berpartisipasi pada proses langsung.
Di kelas kedua, guru membagikan kamera. Kami dibagi menjadi 6 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari dua sampai tiga mahasiswa dan punya satu kamera termasuk charger dan tas. Ada tiga jenis kamera seperti Olympus, Panasonic dan Canon. Kelompok saya mendapat Panasonic Lumix, kamera yang besar dan mudah digunakan. Sebelum kami menerima kamera kami harus menandatangani perjanjian, yang berarti kita harus menjaga dan menggunakannya dengan benar. Guru diminta untuk tetap di tas dan selalu bersama kita kapanpun dan dimanapun kita pergi dan juga meletakkan kantong plastik di dalam sebagai tas darurat jika kita punya hujan ketika menangkap gambar di luar ruangan.

img_1618-resize sebelum menggunakan, guru menjelaskan bagaimana untuk mengoperasikan dan merawat kamera seperti turn on / off, Tempat / keluarkan baterai dan kartu memori, biaya, menangkap atau menghapus gambar, pemutaran, beralih ke video, dan mengurus kamera. It was difficult and nerve wrecking for me to take a picture since it was my first time to see and hold a camera, and I had no idea how to make a good picture, but I was very happy. The teachers asked us to capture issues and potential of our village as we have been mapped. This task we do after school by walking around our village while hanging out or cutting grass. The issues of my village are environment (plastic rubbish and erosion – in rainy season), makanan (malnourished children) infrastructure (bad road, needy family, health facility – far from our village), pendidikan (dropout students), economic (jobless), and social (women discrimination, teenage marriage) sedangkan lingkungan potensial seperti bagus desa mountain view, tanah subur (bahkan hanya di musim hujan), dan perkebunan bambu.

img_0955-resize Saya sangat senang dengan pelajaran ini, sangat menyenangkan dan penuh kegembiraan. Saya berharap melalui pelajaran ini dan dengan kamera ini saya bisa membuat foto yang bagus dan kirim ke orang sehingga isu-isu desa saya dapat dipecahkan dan potensi bisa dikembangkan.

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on LinkedInEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *

only
$